Welcome To Portal Komuniti Muslimah -- Hanan.com.my.my

  Create An Account Home  ·  Topik  ·  Statistik  ·  Your Account  ·  Hantar Artikel  ·  Top 10 14-11-2018  

  Suka!
New Page 1

  Mutiara Kata
Zuhud yang terbaik ialah zuhud yang disembunyikan
--
Saidina Ali

  Menu Utama

  Keahlian Portal Komuniti
Terkini: Swarig123
Hari Ini: 0
Semalam: 0
Jumlah Ahli: 13705

  Sedang Online
Assalamualaikum
Tetamu

Nickname

Password



[ Mendaftar ]

Sedang Online:
Tetamu: 23
Ahli: 0
Jumlah: 23




  Dari Galeri
kalau nak kenal...nielah satu2nyer kakak kesayanagan sayer....nuha...lawa kan?heheh...promote akak jap....hehhesalam ukhwah dr sayer

  Yang Masuk Ke Sini
nishazainal: 1 hari, 1 jam, 35 minit yang lalu
anahusuhana: 7 hari yang lalu
Swarig123: 14 hari yang lalu


Keluargaku
Topik: hadith menafikan wanita jadi pemimpin


Carian Forum

Moderator: Pengurusan, ummimq
Portal Komuniti Muslimah -- Hanan.com.my.my Indeks Forum
  »» Keluargaku
    »» hadith menafikan wanita jadi pemimpin

Please Mendaftar To Post


Oleh hadith menafikan wanita jadi pemimpin

ummimq
::KAUNSELOR::
Menyertai: 16.06.2003
Ahli No: 1731
Posting: 855
Dari: Johor

Johor   avatar


posticon Posting pada: 28-05-04 12:26


PENJELASAN HADITS

"Tidak akan berbahagia / berjaya suatu kaum yang menyerahkan urusan
> mereka kepada wanita (mengangkat wanita sebagai pemimpin)."
>
> DERAJAT HADITS
> Hadits ini dikeluarkan oleh:
>
> Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya di dua tempat. Kitabul Maghazi
> bab Kitab An-Nabi shallallahu 'alaihi
> wa sallam ila Kisra wa Qaisar no. 4425 dan Kitabul Fitan no. 7099.
>
> Imam Abu Isa At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Fitan no. 2262 dan
> beliau menyatakan: "Hadits ini hasan
> shahih."
>
> Imam An-Nasa`i dalam Sunannya, Kitab Adabil Qudlat bab An-Nahyu 'an
> Isti'malin Nisa fi Hukmi no. 2/305 no.
> 5403.
>
> Al-Hakim dalam Mustadraknya, Kitabul Fitan wal Malahim 4/570 no.
8599
> dan beliau menyatakan: "Hadits ini sanadnya shahih dan keduanya
> (Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya."
>
> Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, bab La Yuwalli Al-Wali
> Imra`atan wala Fasiqan wala Jahilan Amral Qadla, Kitab Adabul Qadli,
> 10/201 no. 20362.
>
> Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, Kitabul Imarah wal Qadla, bab
> Karahiyatu Tauliyatin Nisa 6/60 no. 2486. Kata beliau: "Hadits
> shahih."
>
> Al-Khatib At-Tibrizi dalam Misykatul Mashabih, Kitabul Umarah wal
> Qadla pasal pertama 2/1091 no. 3693.
>
> Al-Imam As-Suyuthi dalam Jami'us Shaghir, lihat Faidlul Qadir karya
> Al-Munawi 5/386 no. 7393 dan beliau (Suyuthi) memberi kode:
"Shahih."


Hadits di atas dijadikan dasar para ulama untuk melarang seorang
wanita memangku jabatan sebagai kepala negara. Berikut ini akan saya
nukilkan keterangan ulama berbagai madzhab tentang hadits tersebut:

- Ibnu Hazm Adh-Dhahiri dalam kitabnya Al-Fashl 4/110 menyatakan:
"Seluruh golongan Ahli kiblat (muslimin), tidak ada seorang pun dari
mereka yang memperbolehkan kepemimpinan seorang wanita." (Lihat
Al-Imamatul 'Udhma hal. 246).

- Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam kitab Al-Mughni 10/92 menjelaskan
alasan seorang wanita tidak boleh menjadi hakum atau pemimpin:
"...karena seorang hakim (qadli) harus menghadiri tempat pengadilan
dan perkumpulan lelaki dan membutuhkan pandangan yang tajam serta
kecerdasan akal yang sempurna. Sementara wanita adalah makhluk yang
kurang akalnya, dangkal pandangan pemikirannya, tidak boleh hadir pada
perkumpulan kaum lelaki dan tidak diterima persaksiannya (dalam
pengadilan) sekalipun 1000 (seribu) wanita selama tidak ada laki-laki
(yang ikut jadi saksi). Allah telah mengingatkan sifat pelupa mereka
dalam firman-Nya:

"...supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya...."
(Al-Baqarah: 282)

Seorang wanita tidak layak memangku jabatan kepemimpinan tertinggi dan
tidak pula mengatur sebuah negara. Oleh karena itu Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, para khalifahnya dan para ulama yang
datang sepeninggal beliau tidak pernah mengangkat seorang wanita
sebagai hakim atau mengatur sebuah wilayah di suatu negara. Menurut
berita yang sampai kepada kami, kalaulah boleh, maka tidak akan kosong
seluruh masa dari kepemimpinanwanita...."

- Abu Muhammad Al-Husain bin Mas'ud Al-Baghawi dalam kitabnya Syarhus
Sunnah 6/60 menjelaskan: "(Para ulama) sepakat bahwa seorang wanita
tidak boleh menjadi pemimpin dan hakim (qadli) karena seorang imam
(pemimpin) perlu keluar untuk mengurusi permasalahan jihad (perang)
dan urusan kaum muslimin. Sementara seorang hakim harus keluar untuk
memutuskan berbagai permasalahan. Sedangkan wanita adalah aurat, tidak
boleh keluar (dari rumahnya). Wanita sering kali tidak mampu mengurusi
banyak perkara karena kelemahannya dan dikarenakan wanita itu kurang
(agama dan akalnya). Padahal kepemimpinan dan kehakiman itu adalah
jabatan yang sempurna , tidak boleh dijabat kecuali oleh kaum lelaki
yang sempurna...."

- Abu Bakar Ibnul 'Arabi Al-Maliki dalam kitabnya Aridlatul Ahwadzi
juz 9/119 setelah membawakan hadits ini menjelaskan: "Hadits ini
menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah hak lelaki. Tidak ada celah
bagi wanita dalam masalah ini menurut kesepakatan (ulama, pent)."

- Muhammad Abdurra`uf Al-Munawi dalam kitabnya Faidlul Qadir 5/386
setelah menyebutkan hadits ini menyatakan: "...yang demikian itu
karena kekurangan yang ada pada seorang (wanita) dan kelemahan
pandangannya (rasionya), juga karena seorang pemimpin dituntut untuk
keluar mengurusi problem rakyat. Sedangkan seorang wanit adalah aurat
yang tidak mungkin keluar melakukan tugas seperti itu. Maka ia tidak
sah menjadi seorang pemimpin dan hakim."

- At-Thibi menjelaskan: "Hadits ini menyandarkan ketidakbahagiaan,
ketidakjayaan bangsa Persia secara ta`kid (penekanan) dan pada hadits
ini ada isyarat bahwa kejayaan milik bangsa Arab, sehingga berita ini
merupakan mu'jizat."

- Imam As-Shan'ani dalam Subulus Salam Kitabul Qadla 4/229 menjelaskan
hadits ini: "Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan tidak
bolehnya seorang wanita memimpin sesuatu pun dari hukum-hukum yang
bersifat umum di kalangan muslimin...." Beliau juga menegaskan:
"Hadits ini mengabarkan tentang ketidakjayaan suatu kaum yang
mengangkat wanita sebagai pemimpin. Sedangkan kita dilarang melakukan
sesuatu yang mengakibatkan ketidakjayaan / ketidakbahagiaan pada diri
kita dan diperintahkan untuk berupaya mengerjakan sesuatu yang membawa
kepada kebahagiaan dan kejayaan."

- Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar juz 8/272 bab
Al-Mu`min Wilayatil Mar`ati was Shabiyi wa Man La Yuhsinul Qadla
menerangkan: "Pada hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa
seorang wanita bukanlah orang yang pantas dan berhak menjadi pemimpin.
Bahkan tidak halal bagi suatu kaum mengangkat seorang wanita sebagai
pemimpin. Sedangkan menjauhkan diri dari perkara yang membawa kepada
ketidakbahagiaan adalah wajib."

- Dalam kitabnya (Imam Asy-Syaukani) yang lain yaitu As-Sailul Jarar
4/505 ketika berbicara tentang syarat seorang pemimpin harus pria,
beliau menjabarkan: "...Alasannya adalah karena kaum wanita adalah
orang yang kurang akal[2] dan agamanya sebagaimana yang disabdakan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang yang seperti itu
keadaannya, tentu saja sangat tidak pantas mengurusi problem umat.
Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
dalam sebuah hadits yang shahih:
"Tidak akan jaya suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita."

- Al-'Allamah Muhammad Amin Asy-Syinqithi dalam Adlwaul Bayan 1/52
menjelaskan: "Termasuk syarat kepala negara adalah dia seorang pria.
Tidak ada ikhtilaf dalam masalah ini di kalangan para ulama. Dalilnya
adalah hadits yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan yang lainnya dari
hadits Abi Bakrah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala
sampai pada beliau kabar bahwa penduduk Persia menobatkan putri Kisra
sebagai ratu (kepala negara), beliau bersabda: (hadits di atas)."

- Shafiyur Rahman Al-Mubarak Furi dalam Ithaful Kiram hal. 417-418
menerangkan: "Hadits ini umum mencakup semua kepemimpinan dalam suatu
pemerintahan sampai jabatan terkecil sekalipun, walaupun hadits ini
disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala
sampai berita bahwa penduduk Persia mengangkat putri Kisra sebagai
pemimpin (kepala negara) mereka..."

- Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam dalam Taudlihul Ahkam 6/142 juga
menjelaskan: "Hadits ini secara tegas menyatakan tidak sahnya
kepemimpinan seorang wanita, dan suatu masyarakat atau bangsa yang
mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin tidak akan bahagia, baik
dalam urusan duniawi maupun urusan ukhrawi. Ini adalah pendapat jumhur
ulama, di antaranya adalah tiga imam madzhab di kalangan Ahlus Sunnah
wal Jamaah yaitu Malik, Asy-Syafi'i dan Ahmad."

- Sementara Abu Hanifah berpendapat boleh mengangkat wanita sebagai
pemimpin dalam masalah hukum kecuali hukum-hukum had. Namun pendapat
ini bertentangan dengan nash dalil dan fitrah Rabbani.... "Sekalipun
dia (wanita) memiliki kekuatan dan mendapat dukungan masyarakat, tetap
mereka tidak akan bahagia / jaya dalam urusan duniawi maupun urusan
agama. Wallahul musta'an." (Lihat kembali ucapan ulama tentang Abu
Hanifah pada edisi 29 majalah Salafy)

Demikian penjelasan para ulama jaman dahulu maupun sekarang tentang
hadits ini atau permasalahan yang dibahas dalam hadits ini. Semuanya
menjelaskan tidak bolehnya wanita menjadi pemimpin. Hujjah mereka kita
susun sebagai berikut:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tersebut dalam surat An-Nisa
34:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena
Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang
lain (wanita). Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan
sebagian dari harta mereka...." (An-Nisa: 34)

Silakan lihat pembahasan ini dalam rubrik Tafsir edisi kali ini.

2. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sedang kita
bahas kali ini berikut penjelasan ulama tentangnya.

3. Ijma', Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para khalifah
beliau dan generasi setelah mereka sampai sekarang ini tidak pernah
mengangkat wanita sebagai pemimpin. Ini menunjukkan adanya kesepakatan
di kalangan mereka (ijma'). Ijma' (kesepakatan ulama) merupakan
argumentasi yang signifikan karena Allah tidak akan mengumpulkan umat
ini di atas kesalahan.

M. Afifuddin (Abu Iqbal)


Bookmark and Share




  Member Information For ummimqProfil   Hantar PM kepada ummimq   Pergi ke ummimq's Website   Quote dan BalasQuote

ilahfazilah
WARGA RASMI
Menyertai: 07.02.2011
Ahli No: 12766
Posting: 1
Dari: Bangi

malaysia   avatar


posticon Posting pada: 07-02-11 08:48


Pada 28-05-04 12:26 , ummimq posting:

!!! QUOTE !!!

PENJELASAN HADITS


Assalamualaikum ummimq...

nak mohon pandangan... Bagaimana jika wanita dilantik sebagai KETUA BIRO AGAMA sedangkan organisasi tersebut mempunyai kaum lelaki Islam (Muslimin) di dalamnya...

Adakah hadith2 yang dibincangkan dalam topik ini boleh digunakan untuk perbahasan bahawa tidak sepatutnya wanita yang dilantik sebagai KETUA BIRO AGAMA, tetapi kaum Muslimin seharusnya dilantik untuk memimpin/mengetuai urusan Ugama...


-----------------
iLaHFaZiLaH


Bookmark and Share




  Member Information For ilahfazilahProfil   Hantar PM kepada ilahfazilah   Pergi ke ilahfazilah's Website   Quote dan BalasQuote

Member Messages

Forum Search & Navigation

 

Log in to check your private messages

Silakan Login atau Mendaftar





  


 

[ Carian Advance ]

Jum ke Forum 


-------------------------------------------------------------------------------
Portal Komuniti Muslimah
Hakcipta 2003 oleh Hanan Alam Faizli / Hanan Network
Made in: Bandar Sunway, Selangor
Tarikh Mula: 17hb April 2003

Dibina oleh: Team Walasri

Ditadbir oleh:





Loading: 0.058235 saat. Lajunya....